Wednesday, July 27, 2016

MENGAPA HASIL PENELITIAN TIDAK SIGNIFIKAN?

Oleh : Hendryadi

Sangat sering saya mendengar keluhan mengenai tidak signifikannya hasil penelitian. Beberapa bertanya “apakah boleh jika hasil penelitian tidak berhasil membuktikan teori”

Jawabannya : “JELAS BOLEH” dan “MENGAPA TIDAK BOLEH”
Karena menggunakan metode ilmiah, maka penelitian tentu saja memiliki toleransi terhadap keraguan yang muncul atas sebuah pernyataan atau kesimpulan, memiliki kemauan untuk mempertanyakan segala sesuatu, keinginan untuk melakukan berbagai pengujian dan membuka kesempatan atas adanya pertentangan satu sama lain. Dengan demikian, hasil penelitian terbuka untuk saling berbeda, saling mengkritik, bahkan saling bertentangan.


Dengan demikian, jika ada pendapat yang menyatakan “pokoknya harus signifikan !!”, maka saran saya lebih baik tidak usah diteliti saja, karena sudah yakin 100% signifikan. Logikanya…jika sudah yakin bahwa hubungan dua variabel yang diteliti “pasti” signifikan, maka tidak perlu ada pengujian hipotesis dan uji statistik. Cukup diyakini saja..dan tidak perlu diteliti.

Cara berpikir ilmiah itu adalah dimulai dari keraguan..makanya dilakukan pembuktian. Karena ragu..makanya diteliti. Jika sudah tidak ada keraguan..so..ngapain juga diteliti…he.he.he
Hipotesis yang diajukan tidak terdukung secara statistic ?
Dalam hipotesis statistik inferensial, pengujian hipotesis pada prinsipnya adalah pengujian signifikansi. Signifikansi sendiri merupakan taraf kesalahan yang didapatkan/diharapkan ketika peneliti hendak menggenalisasi sampel penelitiannya. Atau dengan kata lain, peneliti melakukan penaksiran parameter populasi berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari parameter sampel penelitian.

Jika hasilnya tidak signifikan, maka artinya adalah data yang dikumpulkan tidak berhasil membuktikan keterkaitan antara X dan Y, dan bukan berarti X tidak berpengaruh terhadap Y, melainkan data sampel tidak berhasil membuktikan hubungan tersebut.

Mengapa bisa terjadi ?
Ada dua penyebab, pertama adalah memang data yang dikumpulkan tidak berhasil membuktikan hipotesis, dan kedua ada kesalahan dari si peneliti.

Untuk kesalahan pertama, maka tidak ada jalan lain kecuali melaporkan hasil penelitian apa adanya, atau melakukan menambahan data. Adakalanya, dibutuhkan sampel yang besar untuk membuktikan adanya hubungan dua variabel, terutama jika hubungan tersebut kecil.

Sedangkan kesalahan kedua (yang sering terjadi) adalah adalah kesalahan pengambilan sampel, kesalahan teknik analisis, kesalahan input data, kesalahan menginterpretasikan penolakan/penerimaan hipotesis (dikenal dengan istilah kesalahan tipe 1 dan 2), dan lain sebagainya.

Kesalahan pengambilan sampel
Contoh sederhana adalah seorang peneliti ingin meneliti mengenai kepuasan kerja karyawan. Kesalahan pengambilan sampel terjadi ketika sampel yang digunakan tidak mempertimbangkan aspek-aspek seperti pendidikan, pengalaman kerja, jenis kelamin dan lain sebagainya. Sebagai contoh : seorang karyawan yang berpendidikan S2 jelas memiliki harapan akan promosi lebih tinggi dibanding dengan karyawan yang berpendidikan SMA. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali di abaikan sehingga menghasilkan jawaban kuesioner memiliki tingkat variabilitas tinggi.

Kesalahan Input data (coding)
Kesalahan pada input data atau coding sering terjadi terutama pada pernyataan negatif yang seharusnya dilakukan reverse score.

Kesalahan teknik analisis
Kesalahan teknik analisis umumnya terjadi ketika data yang digunakan “dipaksakan: untuk menggunakan teknik tertentu. Sebenarnya, dalam statistic, prinsip parsimony (kesederhanaan) adalah penting. Semakin sederhana maka akan semakin baik.

Kesalahan dalam menerima dan menolak Hipotesis
Kesalahan tipe I adalah kesalahan apabila menolak hipotesis nol (Ho) yang benar (seharusnya diterima).

Kesalahan tipe II adalah kesalahan jika menerima Hipotesis yang salah (seharusnya ditolak).

Bagaimana menjelaskan ketidakmampuan data membuktikan hipotesis ?
Sangat disarankan, pada tinjauan penelitian dicari juga penelitian yang mendukung dan menolak. Contoh : Pada penelitian A, B, dan C, DER terbukti berpengaruh negative dan signifikan terhadap return saham, namun pada penelitan D, E dan F diperoleh hasil sebaliknya yaitu DER tidak berpengaruh terhadap Return saham.

Dengan adanya tinjauan penelitian yang mendukung dan menolak tersebut, kita bisa menjelaskan bahwa paling tidak hasil penelitian ini relevan dengan peneltiian D, E, dan F, dan berbeda dengan peneltiian A, B, dan C.


No comments:

Post a Comment